Gue ingat betul waktu itu. Tahun 2019, gue nekat beli tas kulit di pasar loak kota kecamatan. Harganya seratus dua puluh ribu, kulitnya masih wangi, jahitannya rapi. Penjualnya bilang ini sisa ekspor. Entah benar atau nggak, yang jelas gue pulang dengan dada membusung. Dua bulan kemudian, tas itu sudah kusam, ada bercak putih di sudutnya, dan pegangannya mulai retak. Gue kira kulitnya palsu. Ternyata bukan. Masalahnya cuma satu: gue nggak tahu cara ngerawatnya.
Dari situ gue mulai belajar. Bukan dari kursus atau toko mahal, tapi dari tetangga, tukang sol sepatu langganan ayah, dan kadang coba-coba sendiri. Sekarang, lima tahun kemudian, tas pertama itu masih ada di lemari. Masih dipakai kalau ada acara. Dan pelajaran yang gue dapat justru nggak ada hubungannya sama merek atau harga.
Kulit Itu Kayak Kulit Kita Sendiri
Ini yang paling nempel di kepala gue setelah tukang sol langganan ayah ngomel panjang lebar. Waktu itu gue bawa sepatu kulit kesayangan yang mengelupas di bagian tumit. Dia lihat sebentar, terus bilang, "Kulit iki koyo kulit awakmu. Kena panas terus, pecah. Kena air terus, jamuran."
Baca juga: Indonesia-Uni Eropa Kolaborasi Bahas Green Technology, Ada Beragam Beasiswa
Simpel banget, kan? Tapi selama ini gue perlakukan tas dan sepatu kayak benda mati. Gue jemur di teras rumah setelah kehujanan, tanpa mikir. Gue simpan di lemari yang lembap, tanpa mikir. Gue bersihin pakai sabun cuci piring, tanpa mikir.
Sejak itu gue ubah kebiasaan. Beberapa hal yang gue pelajari dan masih gue pakai sampai sekarang:
- Jangan pernah jemur langsung di bawah matahari. Kalau kena hujan, lap pakai kain kering, lalu angin-anginkan di tempat teduh. Bukan dijemur. Kulit yang dipanaskan terus-menerus bakal kering dan retak.
- Simpan di tempat yang ada sirkulasi udaranya. Lemari kayu di rumah gue dulu lembap banget. Sekarang gue taruh silica gel bekas sepatu baru di dalam tas, dan sesekali buka lemarinya biar udara masuk.
- Bersihin pakai kain lembap, bukan basah. Cukup kain microfiber yang dibasahi sedikit air, lalu dilap. Untuk noda membandel, gue pakai sabun bayi yang lembut. Nggak pernah lagi pakai sabun cuci piring.
Yang terakhir ini kelihatan sepele, tapi efeknya besar. Sabun cuci piring itu keras, dia ngikis minyak alami di kulit. Padahal minyak alami itulah yang bikin kulit tetap lentur.
Pelembap Bukan Cuma buat Wajah
Nah, ini bagian yang dulu paling gue abaikan. Kulit butuh dilembapkan. Bukan cuma kulit muka kita, tapi juga kulit tas dan sepatu. Kalau dibiarkan kering, dia bakal retak pelan-pelan, terutama di bagian lipatan.
Gue nggak beli produk khusus yang mahal. Gue pakai leather conditioner yang harganya sekitar tiga puluh ribuan di toko sepatu dekat pasar. Cukup dioles tipis-tipis pakai kain, dua sampai tiga bulan sekali. Hasilnya? Tas pertama gue yang dulu hampir retak itu sekarang kelihatan lebih sehat, warnanya juga lebih hidup.
Tapi ada catatan penting. Nggak semua kulit sama perlakuannya. Kulit suede atau yang berbulu halus jangan pernah kena air atau minyak. Itu beda cerita. Gue pernah ngerusak sepatu suede karena iseng pakai conditioner yang sama. Nyesel, tapi ya jadi pelajaran.
Barang kulit itu bukan barang yang harus dijaga sampai nggak dipakai. Justru makin sering dipakai dan dirawat, makin bagus tampilannya.
Sepatu: Musuh Terbesarnya Air dan Kebiasaan Males
Sepatu kulit di kota kecil atau desa punya tantangan sendiri. Jalanan sering becek, kadang banjir kecil. Kalau nggak siap, sepatu bisa rusak dalam hitungan minggu.
Pengalaman gue, ada tiga kebiasaan males yang paling sering bikin sepatu kulit cepat rusak:
- Dilempar begitu saja setelah dipakai. Padahal cuma butuh satu menit buat lap debunya dan masukin shoe tree sederhana. Kalau nggak punya shoe tree, kertas koran yang digulung juga bisa kok. Fungsinya biar bentuk sepatu nggak gepeng dan kelembapannya terserap.
- Disimpan numpuk. Sepatu kulit yang ditumpuk lama-lama bisa penyok dan lecet. Kalau tempat terbatas, taruh yang paling sering dipakai di depan.
- Nggak pernah diangin-anginkan. Sepatu yang baru dipakai itu berkeringat. Kalau langsung masuk lemari, kelembapannya mengendap dan bikin jamur. Cukup diangin-anginkan di luar lemari selama satu-dua jam sebelum disimpan.
Gue juga belajar satu hal soal sol. Sol sepatu kulit itu ada yang dijahit, ada yang dilem. Kalau mulai lepas, jangan ditambal sendiri pakai lem serbaguna. Bawa ke tukang sol. Ongkosnya di kampung gue cuma sepuluh sampai dua puluh ribu, dan hasilnya jauh lebih awet. Gue pernah coba lem sendiri, seminggu kemudian lepas lagi, malah bikin solnya susah diperbaiki.
Soal Bau dan Jamur
Ini masalah klasik di daerah yang lembap. Tas atau sepatu yang lama nggak dipakai tiba-tiba berbau apek. Solusinya sederhana: keluarkan semua isinya, lap bagian dalam dengan kain yang sudah dibasahi air campur sedikit cuka, lalu angin-anginkan. Jangan pakai parfum atau pengharum ruangan langsung ke kulitnya, karena bisa meninggalkan noda.
Untuk mencegah, gue selalu taruh kantong teh kering atau silica gel di dalam tas dan sepatu yang lagi nggak dipakai. Murah, gampang, dan efektif.
Yang Paling Mahal Itu Bukan Produknya
Setelah lima tahun utak-atik, gue sadar satu hal. Perawatan barang kulit itu nggak butuh produk mahal atau alat canggih. Yang dibutuhkan cuma konsistensi dan sedikit pengetahuan. Kain microfiber, sabun bayi, conditioner tiga puluh ribuan, dan kebiasaan merapikan barang setelah dipakai. Itu saja.
Yang mahal justru kalau kita malas. Tas yang nggak dirawat harus diganti, sepatu yang retak harus dibuang. Padahal kalau dirawat, barang-barang ini bisa bertahan bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun. Kulit itu material yang justru makin bagus seiring waktu, asal kita mau sedikit repot.
Jadi buat kamu yang di kampung atau kota kecil, yang mungkin mikir barang kulit itu ribet dan cuma buat orang kota, tenang. Gue udah buktiin sendiri. Tas seratus dua puluh ribu dari pasar loak itu masih ada di lemari gue sekarang, dan masih gue pakai kalau ada acara penting. Bukan karena harganya, tapi karena gue udah tahu cara ngerawatnya.
Mulai dari satu barang dulu. Tas atau sepatu yang paling sering kamu pakai. Lap, angin-anginkan, lembapkan. Lakukan rutin. Dua bulan lagi, kamu bakal lihat bedanya sendiri.